POD, Self Publishing, dan Kemajuan Bangsa




POD (Print On Demand) sebenarnya bukanlah nama dari sebuah klasifikasi teknologi baru dalam industri grafika seperti halnya teknologi offset, rotogravure, fleksografi, screen printing, digital printing, dsb. POD lebih tepat jika diartikan sebagai sebuah inovasi atau keunggulan dari teknologi Digital Print atau yang dalam ilmu grafikanya disebut teknologi NIP (Non Impact Printing), yaitu teknik cetak tanpa memerlukan acuan cetak permanen. Kekhasan NIP yang tidak memerlukan acuan cetak permanen dari teknologi NIP inilah yang kemudian memungkinkan POD dapat dilakukan. POD secara umum diartikan sebagai pencetakan berdasarkan keinginan atau kebutuhan sang pemesan. POD memungkinkan seseorang untuk mencetak dengan oplag sedikit (short run printing), mencetak dalam waktu singkat, dan meminimalisir ongkos cetak tentunya, dimana hal-hal ini tidak dapat diwujudkan dengan teknologi grafika konvensional akibat terbentur dengan persyaratan minimum order. Lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan akan jumlah, waktu, dan biaya, POD juga mampu memenuhi kebutuhan pemesan akan kualitas hasil cetak yang dikehendakinya, misal kualitas warna yang sesuai dengan “selera” warna sang pemesan dengan dukungan sistem manajemen warna pada mesin digital print.

Penerapan inovasi POD yang banyak berkembang saat ini salahsatunya ialah Self Publishing (Penerbitan Mandiri), dimana seseorang dapat menerbitkan bukunya sendiri secara mandiri tanpa melibatkan perusahaan penerbitan. Bambang Trim, penggagas Penerbit Salamadani mendefinisikan Self Publishing sebagai berikut, “Self Publishing adalah ketika seorang penulis memutuskan menerbitkan sendiri naskahnya (bahkan mengedit dan menataletaknya sendiri), lalu menggunakan jasa penerbitan dengan kontrol penuh sebagai klien, dan bernegosiasi langsung dengan percetakan. Ia mengontrol secara lengkap semua proses penerbitan, percetakan, dan pemasaran. Ia menginvestasikan waktu dan uangnya hingga memperoleh imbalan lebih besar daripada menerbitkan melalui jalur konvensional penerbitan biasa”.

Self Publishing dapat mempersingkat alur dan waktu penerbitan sebuah buku, misal dengan cara konvensional sebuah buku dapat diterbitkan dalam waktu rata-rata tiga bulan sedangkan dengan Self Publishing sebuah buku rata-rata dapat diproduksi dalam waktu satu bulan bahkan lebih cepat. Berkembangnya Self Publishing di Indonesia berusaha meluruskan persepsi sebagian besar masyarakat yang mengira proses penerbitan sebuah buku itu rumit, padahal boleh jadi mereka menyimpan karya luarbiasa yang apabila diterbitkan dapat menjadi buku "best seller" dalam waktu singkat. Sosialisasi mengenai Self Publishing nampaknya harus digiatkan demi memacu para penulis muda berbakat yang masih malu-malu menerbitkan karyanya. Semakin maraknya perkembangan Self Publishing di Indonesia tentunya akan diikuti oleh peningkatan jumlah buku yang diterbitkan, dengan demikian diharapkan pula dapat memicu peningkatan budaya baca masyarakat. Tahun lalu, Kompas Gramedia pernah mencatat saat ini hanya terdapat sekitar 700 toko buku besar dan kecil. Jumlah itu belum memadai untuk 10 juta pecinta buku di Indonesia. Selain itu, percetakan yang ada hanya 6.400 unit dan perpustakaan hanya 3.700 unit. Penulis yang berkapasitas baik sehingga dikenal secara internasional juga masih sedikit, sedangkan jumlah penerbit yang tergabung sebagai anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) hanyalah sejumlah 1009 penerbit. Data tersebut tentu sangat miris jika kita bandingkan dengan keseluruhan jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah tidak kurang dari 241 juta jiwa.

Di negara maju seperti Jepang dengan budaya baca yang tinggi, ternyata jumlah produksi buku banyak berpengaruh pula pada peningkatan pendapatan negara pertahunnya. Bagaimana tidak, bunkanews (situs khusus tentang media massa berbahasa Jepang) menyebutkan jumlah toko buku di Jepang adalah sama dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat. Padahal, luas wilayah Amerika Serikat adalah dua puluh enam kali lebih luas dan berpenduduk dua kali lebih banyak daripada Jepang. Toko-toko buku ini berani untuk buka sampai larut malam, lebih malam dari departemen store maupun supermarket. Karena itu, data ini menunjukkan bahwa toko buku sangat banyak di Jepang, mudah dijangkau, dan berada sangat dekat dengan masyarakat Jepang. Sebuah kelebihan yang membuat bahagia para konsumen buku dan penerbit tentunya. Juga menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat terhadap budaya membaca.

Ingin negara kita maju seperti negara Jepang? Maka, sudah seharusnya kita mengambil manfaat dari setiap kemajuan teknologi dengan berani mengambil bagian dalam perkembangan Self Publishing di Indonesia.

*Terinspirasi oleh bitBOEKOE Self Publishing

Sulaeman Saleh

Kontributor

BelajarGrafika.Com memuat kumpulan materi kegrafikaan yang dirangkum dari berbagai sumber oleh mahasiswa dan alumni Program Studi Teknik Grafika dan mahasiswa Teknologi Industri Cetak Kemasan, Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta (TGP-PNJ).